Oleh : Aisyah Saputri
Sebagai mahasiswa pasti relate kan dengan kondisi keuangan akhir bulan yang pas-pasan dan ‘hidup segan mati tak mau’? Apalagi dengan gaya hidup mayoritas mahasiswa yang cenderung mengutamakan gengsi dan branding ketimbang berpikir untuk keuangan jangka panjang.
Padahal, di usia-usia kita sekarang sebagai mahasiswa seharusnya ada urgensi untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih baik dan sehat guna membiasakan diri sekaligus mempersiapkan diri masuk ke jenjang yang lebih serius. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan mayoritas mahasiswa seperti FOMO (fear of missing out), nongkrong, dan foya-foya, tidak lain hanya untuk mengejar branding di sosial media.
Sebagai mahasiswa, seharusnya kita lebih kritis lagi tentang persoalan gaya hidup ini yang mana sudah banyak fasilitas-fasilitas dan berbagai kemajuan teknologi yang dapat mengatur dan membantu kita untuk lebih disiplin lagi dalam keuangan kita. Selain itu, kita juga harus menghindari sifat konsumtif dan beralih dari hal-hal yang bersifat riba, gharar, maysir, dan sebagainya. Nah, kira-kira seharusnya bagaimana seorang mahasiswa mengelola keuangannya sehari-hari dengan prinsip syariah?
Masalah Umum Sebagian Besar Mahasiswa
Ada beberapa masalah umum yang sering terjadi dalam keuangan mahasiswa. Masalah-masalah ini kerap terjadi bagaikan siklus yang sulit diubah kebiasaannya. Seperti pengeluaran yang tidak terkontrol, gaya hidup konsumtif, tergoda pinjaman instan, dan tidak punya dana darurat. Permasalahan tersebut sebenarnya banyak terjadi di kalangan mahasiswa, namun bukan berarti hal tersebut bisa dianggap wajar.
Di sinilah prinsip-prinsip keuangan syariah hadir untuk menjawab tantangan dan permasalahan keuangan sebagian besar mahasiswa. Ada beberapa prinsip yang bisa diterapkan guna memutus siklus buruk pengelolaan keuangan mahasiswa.
1. Menghindari hal-hal yang berbau riba. Segala bentuk pinjaman berbunga seperti kartu kredit, pinjol, paylater, dan lain-lain hanya memberikan mudharat ketimbang maslahah.
2. Menghindari gharar (ketidakpastian) dan maysir (spekulasi). Contohnya seperti pembelian blindbox, yang mana kita membeli sesuatu yang kita tidak tahu apa isinya. Contoh lainnya investasi crypto asal-asalan yang biasanya terpengaruh oleh hype-nya, arisan online bodong yang mana tidak jelas siapa pengelolanya, dan lain-lain.
3. Menggunakan layanan-layanan keuangan syariah dengan akad atau kontrak yang jelas seperti menerapkan akad murabahah (jual beli), ijarah (sewa), dan musyarakah (kerjasama modal). Contohnya, kita ingin membeli laptop seharga Rp8 juta dengan skema cicilan melalui Lembaga Keuangan Syariah (LKS), maka LKS akan membeli laptop tersebut dan menjualnya kembali kepada kita dengan harga Rp9 juta. Kemudian, kita mencicil selama 12 bulan kepada LKS untuk melunasi biaya pembelian laptop tersebut.
4. Hal terakhir yang sering dilupakan oleh sebagian besar mahasiswa adalah keberkahan dalam harta. Saking fokusnya menikmati harta untuk dirinya sendiri terkadang kita lupa bahwa dalam sebagian harta kita ada hak milik orang lain. Jangan lupa untuk menyisihkan sebagian harta kita untuk berinfak dan bersedekah.
Kemudian, bagaimana cara kita menerapkan prinsip-prinsip di atas dengan fasilitas keuangan syariah yang tersedia sekarang?
Kita bisa mulai menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam mengelola keuangan kita lewat langkah-langkah kecil seperti menabung di lembaga keuangan syariah. Tentunya ada perbedaan akad yang digunakan ketika kita menabung di bank konvensional dan bank syariah. Bank syariah menawarkan sistem akad wadiah dan mudarabah yang mana bisa kita pilih sesuai kebutuhan kita ketika ingin membuka tabungan di bank-bank syariah.
Sebagai mahasiswa yang hidup di era kemajuan teknologi, tentunya sudah tidak asing dengan aplikasi keuangan syariah yang biasanya disediakan oleh bank-bank syariah. Kita juga bisa memanfaatkan layanan keuangan syariah lainnya yang tersedia di aplikasi-aplikasi keuangan syariah seperti sukuk ritel, wakaf uang, dan sebagainya atau lewat aplikasi-aplikasi keuangan syariah lainnya yang dapat diunduh melalui Google Playstore.
Selain itu, ketika kita perlu membeli kebutuhan-kebutuhan penting seperti laptop, ponsel, motor, dan sebagainya, salah satu solusinya kita bisa menggunakan pembiayaan syariah yang menggunakan akad murabahah atau akad ijarah. Tentunya akad-akad ini bebas dari bunga dan lebih aman.
Setelah mengetahui prinsip-prinsipnya sekaligus penerapannya di dunia nyata, kira-kira adakah tips-tips praktis yang kita harus perhatikan juga agar pengelolaan keuangan kita bisa lebih maksimal?
Menjadi Ahlinya dalam Mengatur Duit
Tentunya ada beberapa tips yang bisa membuat pengelolaan keuangan kita semakin maksimal, simak tips-tips berikut ini!
1. Catat semua pengeluaran dan pemasukan secara rutin, bisa menggunakan catatan digital, aplikasi pencatat keuangan, atau mencatat secara manual di buku.
2. Gunakan metode budgeting sederhana. Bisa gunakan metode 50-30-20 atau metode lainnya.
3. Sisihkan sebagian harta untuk infak atau sedekah walaupun nominalnya kecil. Biasakan diri kita untuk selalu menyisihkan harta untuk infak atau sedekah, selain agar mendapatkan pahala dan keberkahan dalam harta, hal ini juga bisa menumbuhkan rasa empati dan dermawan dalam diri kita.
4. Hindari hutang konsumtif. Kalau bisa hindari berhutang dalam membeli apapun. Selagi tidak darurat maka jangan paksakan pengeluaran. Apalagi membeli sesuatu yang tujuannya hanya karena FOMO atau ikut-ikutan tren.
5. Manfaatkan promo dan diskon dengan bijak, jangan impulsif.
6. Prioritaskan saving sebelum spending. Jika ada uang-uang yang tersisa dan kita sudah mengalokasikannya ke hal-hal yang kita perlukan, maka simpan sisanya sebagai dana darurat.
Jika kita sudah mengusahakan semua hal-hal di atas, jangan lupa untuk selalu meminta pertolongan Allah karena rezeki dan kemudahan hanya datang dari-Nya. Ingat, bahwa keuangan syariah bukan hanya soal menerapkan apa yang diajarkan oleh agama kita namun ia adalah tentang prinsip yang kita terapkan agar dapat mencapai lingkungan keuangan yang lebih sehat dan bijaksana.
Sebagai mahasiswa, tentu kita punya kesempatan emas untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip ini sejak dini. Tidak perlu menunggu gaji dua digit untuk melakukan pengaturan keuangan, tapi mulai sejak dini agar senantiasa terbiasa dengan manajemen keuangan yang baik.
Kita selalu bisa memulai sesuatu dengan langkah-langkah kecil, termasuk dalam mengatur keuangan kita, mulai dengan langkah kecil seperti beralih ke produk keuangan syariah untuk menabung, berinvestasi, dan sebagainya. Jika masih memiliki banyak kebingungan atau merasa masih awam dalam dunia keuangan syariah, tidak ada salahnya untuk mulai mengikuti akun, podcast, atau webinar tentang literasi keuangan syariah yang dapat membantu kita memperkaya literasi kita terkait keuangan syariah.
0 Komentar