Oleh : Kayyis Salamah
“Orang yang cerdas bukan hanya yang pandai mengelola penghasilan, tetapi juga yang bijak dalam memilih jalan keuangan yang halal dan berkah.” Kutipan ini bukan hanya kata-kata motivasi, tapi juga pengingat pentingnya literasi keuangan, terutama dalam konteks syariah. Di tengah derasnya gaya hidup konsumtif dan godaan diskon e-commerce, keuangan syariah hadir sebagai alternatif yang bukan cuma ekonomis, tapi juga etis. Sayangnya, banyak dari kita, terutama mahasiswa, masih belum paham betul tentang konsep ini.
Keuangan syariah itu bukan sistem eksklusif yang hanya untuk ustaz atau orang-orang yang belajar ekonomi Islam. Justru, sistem ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengatur keuangan dengan cara yang lebih adil, transparan, dan tentunya bebas dari riba. Dalam sistem ini, semua transaksi harus bebas dari unsur riba, garar (ketidakpastian), dan maisir (judi) sehingga tercipta ekosistem keuangan yang sehat. Tapi, kenyataannya masih banyak dari kita yang mengira keuangan syariah itu cuma versi islami dari bank konvensional. Padahal beda banget!
Salah satu masalah utama kenapa keuangan syariah belum populer di kalangan mahasiswa adalah karena minimnya literasi. Berdasarkan data dari SNLIK(Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) tahun 2024, tingkat literasi keuangan syariah nasional baru di angka 39,11%. Hal ini masih jauh di bawah literasi keuangan umum yang sudah mencapai 65,43%. Ini menunjukkan bahwa masih banyak dari kita yang belum mengerti tentang produk, konsep, dan manfaat dari sistem keuangan syariah.
Nah, di sinilah pentingnya edukasi keuangan syariah bagi mahasiswa. Edukasi ini tidak harus selalu datang dari kuliah atau seminar formal. Kita bisa belajar lewat konten-konten ringan kayak video TikTok, reels Instagram, podcast, bahkan thread Twitter yang relate dengan kehidupan mahasiswa. Kita bisa mulai dari hal kecil, kayak belajar cara mengatur uang bulanan dengan prinsip syariah atau memilih platform tabungan dan investasi yang halal serta bebas riba.
Sebagai generasi digital, mahasiswa punya peluang besar untuk jadi agen perubahan. Bukan cuma jadi objek edukasi, tapi juga jadi penyampai pesan. Bayangkan kalau mahasiswa aktif bikin konten tentang tips keuangan syariah, review produk perbankan syariah, atau sharing pengalaman investasi halal. Hal itu bisa banget bantu menaikkan literasi keuangan syariah di kalangan muda.
Selain itu, kita juga perlu mendorong kampus, organisasi kemahasiswaan, dan komunitas literasi untuk ikut berperan dalam edukasi ini. Bisa melewati pelatihan, diskusi santai, atau proyek sosial yang mengajak mahasiswa agar lebih peduli soal cara mengatur uang yang bukan cuma untung dunia, tapi juga berkah akhirat.
Pada akhirnya, belajar keuangan syariah itu bukan sekadar mengerti istilah-istilah kayak mudharabah, murabahah, atau musyarakah. Tapi lebih dari itu, ini soal gimana kita ngejalanin gaya hidup finansial yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Sebab, hidup kita bukan cuma soal cuan tapi juga soal keberkahan.
Dengan literasi yang baik, mahasiswa bisa lebih bijak dalam mengelola uang saku, memilih platform keuangan, dan bahkan bikin keputusan investasi yang halal. Kalau dari sekarang kita udah ngerti dan praktik, insyaallah masa depan kita bakal lebih terarah, baik dari sisi keuangan maupun spiritual. Yuk, bareng-bareng jadikan keuangan syariah bukan cuma teori, tapi bagian dari gaya hidup mahasiswa masa kini.
0 Komentar